Ketenangan dan Ketentraman Hati yang Hakiki

Posted: January 8, 2013 in Uncategorized

-Fahri W M, Bandung-

Image

Waktu terus berjalan tanpa henti hingga sadar tidak sadar ada saat kita terbawa oleh hiruk pikuk kehidupan dunia ini. Setiap hari disibukkan dengan tugas-tugas yang menumpuk, kerjaan, belajar, atau hal-hal lain sehingga akan timbul yang namanya kejenuhan. Tidak hanya kejenuhan dalam pikiran, tapi juga kejenuhan hati yang setiap harinya dihadapkan kepada realita dunia ini. Sehingga tidak jarang orang – orang sangat membutuhkan refreshing, baik dengan pergi ke puncak, pantai, bersantai dengan keluarga, atau salah-salah ke tempat hiburan malam. Namun, refreshing-refreshing tersebut hanya kebahagiaan yang semu, artinya setelah pulang maka kita akan dihadapkan kepada realita-realita lagi dan akan menjadi suntuk, dan begitu seterusnya.

Lantas, bagaimana agar kita menjadi tenang, tentram, dan nyaman setiap harinya ?? Bagaimana caranya mendapatkan ketentraman yang hakiki ?

Apabila anda seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka anda sebetulnya telah mendapatkan ketenangan, 

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48]: 4)

menjadi orang yang beriman itu memiliki hati yang tentram, lantas bagaimana apabila kita telah beriman tapi hati kita masih gundah ? maka tentunya kita harus intropeksi diri, muhasabah, apakah kita telah melaksanakan hal-hal yang membuat iman kita bertambah setiap harinya ?

karena sudah jelas bagi orang yang beriman dan bertaqwa, Janji Allah memberikan ketenangan, tidak ada rasa khawatir dan bersedih hati.

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung,”(QS Yunus [10]: 62-64).

Dari ayat tersebut, wali adalah orang yang beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya yang termaktub dalam Al Qur’an dan terucap melalui lisan Rosul-Nya, memegang teguh syariatnya lahir dan batin, lalu terus menerus memegangi itu semua dengan dibarengi muroqobah (terawasi oleh Allah), kontinyu dengan sifat ketaqwaan dan waspada agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang dimurkai-Nya berupa kelalaian menunaikan wajib dan melakukan hal yang diharomkan (Lihat Muqoddimah Karomatul Auliya’, Al-Lalika’i, Dr. Ahmad bin Sa’d Al-Ghomidi, 5/8).

Sebagai orang yang beriman, kita juga memiliki tools agar setiap saat tenang dan tentram.

“Ingatlah, hanya dengan zikir (mengingat) Allah hati menjadi tenang.”. (Q.S Ar-Ra’d: 28)

”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya, melainkan ketenangan jiwa bagi mereka, mereka diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut nama-nama  mereka di hadapan para Malaikat yang ada di sisi-Nya.” (H.R Muslim).

sudah tidak diragukan lagi, menjadi seorang yang beriman dan bertaqwa, senantiasa berdzikir kepada Allah, membaca, dan mempelajari Al-Qur’an adalah solusi dari ketenangan dan ketentraman hati ini.

inilah ketentraman yang hakiki, baik di dunia ataupun di akherat.

sebagai penutup, salah ada kutipan hadist agar kita benar-benar merasakan manisnya iman, indahnya iman. apabila belum merasakan, maka sangat perlu menerungkan diri kita sendiri seberapa jauh iman kita ??

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ)). (رواه البخاري ومسلم وهذا لفظ مسلم)

Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR Bukhar Muslim dengan redaksi Muslim)

wallahualam bissawab.

 

Advertisements
Comments
  1. emoslem says:

    Jos !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s